Artikel

ALLAH SUBHANAWATA 'ALA TEMPAT MEMINTA DAN MENGADU

2018-11-13 00:00:00

ALLAH SWT TEMPAT MEMINTA DAN MENGADU

Ditulis oleh : USTADZ DR.FACHRUROZY ABU HAITSYAM

 

 

          Allah SWT berfirman:

{ وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا }

Artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."(QS. An-Nisa: 32)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

{ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ }

Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.(QS. Ghoofir : 60)

Dalam firman-Nya yang lain:

{ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ }

Artinya: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

          Dalam hadits Abu Hurairoh RA, Rasulullah SAW bersabda:

(( أن الله يقول أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه أذادعا ني )) . رواه مسلم والترمذي .

“Sesungguhnya Allah berfirman: Aku ada dalam prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia berdo’a kepada-Ku.” (HR. Muslim dan Turmudzi)

عَنْ أَبِي الْعَبَّاس سَهْل بِنْ سَعْد السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ : ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ . [حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسنة]

Dari Sahal bin Saad berkata: Seseorang telah datang menghadap Rasulullah SAW, dan berkata: Wahai Rasulullah berilah aku  petunjuk dengan amalan yang jika aku mengamalkannya, Allah  mencintaiku dan manusia juga mencintaiku. Maka beliau menjawab: “Zuhudlah terhadap dunia, dan zuhudlah terhadap apa-apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah, dan sanadnya bagus/hasan)


عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِِ عَبَّاسٍٍٍِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا ، فَقَالَ «يَا غُلَامُ ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ. وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِاجْتَمَعَتْ عَلىَ أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَ إِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيِحٌ.

 وَفِي رِوَايَةٍ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ : «اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّ ةِ. وَاعْلَمْ أَنَّ مَاأَخْطَأَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ ، وَمَا أَصَابَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا». 

Dari Ibnu Abbas RA berkata, suatu hari aku berada di belakang Rasulullah SAW, maka beliau bersabda: “Wahai bocah, sungguh aku akan mengajarimu beberapa kalimat: jagalah Allah, niscaya Ia menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu temukan Dia di hadapanmu, jika kamu meminta maka memintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan maka memintalah kepada Allah. Dan ketahuilah sesungguh semua makhluk (umat) jika berkumpul jadi satu untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, maka tidak akan mampu melakukannya kecuali jika Allah sudah menentukannya untukmu. Dan jika mereka berkumpul jadi satu hendak membahayakanmu dengan sesuatu, maka tidak akan bisa melakukannya kecuali jika Allah SWT telah menentukan terhadapmu.” (HR. Turmudzi, dan beliau menshahihkannya)

          Dalam riwayat selain Turmudzi kata-katanya seperti berikut ini: “Jagalah Allah, niscaya kau temuka Dia di hadapanmu, kenalilah Allah saat kamu senang, niscaya Dia mengealimu saat kamu susah. Dan ketahuilah, sesungguhnya musibah apa saja yang Allah takdirkan luput dari kamu, niscaya tidak akan menimpamu. Dan musibah apa saja yang Allah takdirkan menimpamu, niscaya tidak akan luput dari kamu. Dan ketahui pula sesungguhnya kemenangan itu dengan kesabaran, kelapangan itu beserta kerumitan dan kesusahan itu bersama kemudahan.” (HR. Abd bin Humeid, Baihaqi dan Tabrani dengan sanad yang lemah)

          Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ أَوْشَكَ اللهُ لَهُ بِالْغِنَى: إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ . (رواه ابوداودوالترمذى, وقا ل: (( حدث حسن ))

“Barangsiapa yang ditimpa suatu kesulitan lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutup kefakirannya. Dan barangsiapa yang mengadukan kesulitannya itu kepada Allah, maka Allah akan memberikannya salah satu diantara dua kecukupan: kematian yang cepat atau kecukupan yang cepat.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi). Dihasankan oleh Turmudzi serta dishahihkan oleh Al-Bani.

          Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seorang yang mendapat kesulitan dan kesusahan, namun ia selalu berharap kepada orang lain, maka kefakirannya tidak akan  tertutupi. Kita dapat saksikan betapa banyaknya kaum Muslimin yang tertimpa musibah dan kesulitan  mereka adukan semuanya kepada orang lain, baik dengan mengatakan bahwa ia sedang sakit atau sedang bangkrut usahanya atau selainnya. Tetapi, apabila mereka sedang mendapatkan senang dan mendapat keuntungan, mereka tidak mengadukannya kepada orang lain. Seseorang yang mengadukan kefakiran dan kesulitannya agar orang lain merasa kasihan kepadanya, maka hal itu tetap tidak akan menutup kefakirannya. Namun jika ia merasa cukup dengan karunia Allah Ta’ala berikan, dan ia mengadukan segala kesulitannya kepada Allah, maka Dia akan menutupi kefakirannya itu dan akan menambah karunia yang telah diberikan-Nya kepadanya. Apabila Allah Ta’ala mentakdirkan kita mengalami kesulitan, lalu kita adukan kesulitan yang kita alami kepada Allah, maka Dia akan memberikan kepada kita jalan keluar yang baik dan rizki, baik cepat maupun lambat.

          Kita harus mengimani, memahami, dan mengamalkan hadits ini dalam kehidupan kita. Kita harus yakin bahwa Allah-lah yang mendengar kesulitan kita. Adapun manusia, mereka tidak suka mendengar kesulitan orang lain. Islam menganjurkan kita untuk berusaha, berdasarkan ayat-ayat dan hadits-hadits Rasulullah SAW. Dan usaha ini tidak mengurangi waktu kita, baik dalam menuntut ilmu maupun mengajar dan mendakwahkan ilmu.

          Seorang penyair berkata:

من يسأ ل النا س يحرموه   *   وسا ئل الله لايخيب

Artinya:

Barangsiapa yang meminta kepada manusia, niscaya mereka mengharamkannya.

Dan yang meminta kepada Allah, niscaya Dia tidak akan membuatnya sia-sia.

Penyair lain berkata:

لاتسأ لن بني ادم حاجة           *       وسل الذي أبوا به لا تحجب

الله يغضب أن تركت سؤاله      *      وبني ا دم حين يسأ ل يغضب

Janganlah meminta kepada bani Adam suatu kebutuhan!

Dan mintalah kepada (Dzat) yang pintu-pintu Nya tidak terhalang!

Allah marah jika kamu tidak mau meminta kepada-Nya.

Sementara bani Adam saat diminta, malah dia marah.

(Lihat Tafsir Ibnu Katsir 7/153)