Artikel

KLASIFIKASI MANUSIA YANG MEMINTA-MINTA

2018-10-08 00:00:00

KLASIFIKASI MANUSIA YANG MEMINTA-MINTA

Ditulis oleh UST DR.FACHRUROZY ABU HAITSHAM M.A

Secara garis besar ada tiga golongan manusia yang melakukan pekerjaan meminta-minta:

  1. Faktor miskin dan orang-orang yang tiba-tiba dihadapkan pada situasi dan kondisi darurat atau dililit kebutuhan yang mendekati darurat, baik untuk dirinya atau karena menanggung beban orang lain.

Mereka ini orang yang benar-benar membutuhkan bantuan dan pertolongan sesuai dengan realita kehidupannya. Mereka memang betul-betul dalam keadaan menderita dan sengsara karena harus menghadapi kesulitan mencari makan sehari-hari, setelah berusaha dengan keras dan maksimal atau mereka terjepit keadaan yang tidak memungkinkan dirinya untuk melakukan aktifitas usaha.

     Sebagian besar golongan ini adalah orang-orang yang susah memiliki harga diri dan punya keinginan untuk menjaga kehormatannya. Sesungguhnya mereka ini tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan hina seperti ini yaitu meminta kepada orang lain. Lagipula mereka memintanya tidak dengan cara mendesak sambil mengiba-iba. Dan mereka sebenarnya malu menyandang predikat pengemis yang dianggap telah merusak nama baik agama dan mengganggu nilai-nilai etika serta menyalahi tradisi masyarakat di sekitarnya.

     Yang demikian itu seperti yang Allah SWT ceritakan dalam Al-Qur’an tentang kondisi para mujahidin dari sahabat-sahabat  Nabi SAW yang miskin karena tidak ada kesempatan untuk berbisnis, waktunya tersita habis untuk berjihad, akan tetapi mereka tidak pernah meminta-minta, padahal mereka sangat berhak untuk mendapatkan shodaqoh serta tunjangan.

     Allah SWT berfirman:

{  لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ }

Artinya: “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kayak arena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 273)

     Ibnu Katsir dalam tafsirnya (1/324) menafsirkan: “Maksud dari kata-kata (mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak) mereka tidak membebani orang lain dengan meminta sesuatu yang tidak mereka butuhkan. Maka barangsiapa yang meminta sesuatu, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya dari minta-minta, maka dia telah melakukan perbuatan minta-minta dengan cara mendesak.”

     Adapun mereka yang tiba-tiba dihadapkan pada situasi darurat, Rasulullah SAW telah menjelaskannya dalam hadits berikut ini:

 

عن أبي بشر قبيصة بن مخارق-رضي الله عنه-, قال : تحمَّلت حَمَالة فأتيتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم أسأله فيها, فقال : (( أقِمْ حتى تأتيَنا الصدقةُ فنأمُرَ لك بها)) ثم قال :(( يا قبيصة إنَّ المسألةَ لا تحلّ إلا لأحد ثلاثة رجل تحمل حمال فَحلَّتْ له المسألة حتى يُصيبَها ثم يُمْسِكُ ورجُل أصابتهُ جائحة اجتاحت ماله فحلّتْ له المسألة حتى يُصيب قوَاما مِنْ عَيْش- أو قال : سِدادا مِنْ عَيْش ورجل أصابته فاقة حتى يقول ثلاثة من ذوي الحِجَا من قومه : لقد أصابت فلاناً فاقة، فحلّت له المسألة، حتى يصيبَ قَوَاما من عَيْش أو قال سِدَادا من عيش, فما سِوَاُهنَّ من المسألة يا قبيصة سُحْت, يأكلها صاحبها سُحْتا)) رواه مسلم

Dari Abu Bisyer Qubaishoh bin Al-Mukhoriq RA berkata:

“Aku menanggung sebuah  tanggungan (tanggungan orang lain), maka aku mendatangi Rasulullah SAW meminta kepadanya untuk tanggungan tersebut, maka Rasulullah SAW berkata: “Diamlah disini hingga datang kepada kami shodaqoh, nanti kami suruh memberikannya padamu, kemudian beliau berkata: “Wahai Qubaishoh sesungguhnya meminta itu tidak halal kecuali bagi tiga orang.

 

     Pertama, seseorang yang menanggung tanggungan orang lain (hutang atau diyat) hingga dia mendapatkan (untuk membayarnya), kemudian setelah itu dia menahan diri (maksudnya setelah itu tidak boleh meminta lagi).

     Kedua, seseorang yang kena hama yang menghancurkan semua hartanya, maka dia boleh meminta sehingga dia mendapat pegangan untuk kehidupannya atau bisa menutupi kehidupannya.

     Ketiga, seseorang yang jatuh miskin/bangkrut, dengan kesaksian tiga orang yang betul-betul berakal sehat dari kaumnya (penduduk desa tersebut), seraya mereka menyatakan: Sungguh si Fulan itu telah tertimpa kebangkrutan, maka halal baginya meminta, sehingga dia mendapatkan pegangan hidup atau bisa menutupi kebutuhannya. Adapun meminta selain dari tiga hal tersebut, wahai Qubaishoh, haram orang yang memakannya juga makanan yang haram.” (HR.Muslim, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

  1. Bukan fakir miskin dan bukan para peminta-minta yang sedang dilanda situasi dan kondisi darurat atau mereka tidak terdesak oleh kebutuhan yang mendekati darurat.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki harta yang mencukupi untuk makan sehari-harinya.

Rasulullah SAW telah memperingatkan terhadap orang yang kondisinya seperti ini, akan tetapi dia tetap melakukan  minta-minta. Dalam  hadits yang oleh Sahal bin Handzoliyah Al-Anshory RA bahwasanya Nabi SAW bersabda:

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنْ النَّار جهنم )) قلوا : يا رسول الله وما يغنيه ؟ قال : (( ما يغديه, او يعشيه )) رواه احمد وابو داود وابن حبا ن والحاكم ).

“Sesungguhnya barangsiapa yang meminta-minta, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia telah memperbanyak sesuatu dari api neraka Jahannam. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apa batasan sesuatu yang mencukupinya itu? Beliau menjawab: “Sesuatu cukup untuk makan siang atau makan malam.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

     Diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(( مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ ))

“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

     Diriwayatkan pula dari Hubsyi bin Junaadah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ))

“Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kefakiran, maka seolah-olah ia memakan bara api.” (HR. Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Dhiyaa) hadits ini dishahihkan Ibnu Khuzaimah dan Al-Bani.

Dan dari Samuroh bin Jundub RA bahwasanya Nabi SAW bersabda:

(( الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ ))

“Sesungguhnya meminta itu cakaran, seseorang dengan meminta mencakar mukanya sendiri, kecuali seorang meminta kepada sultan atau untuk sebuah perkara yang tidak boleh tidak (darurat).” (HR. Turmudzi serta menshahihkannya)

     Al-Shan’any dalam kitabnya Subulussalam (1/632) berkata: “Adapun memintanya kepada sultan, maka sesungguhnya tiada celaan, karena pada dasarnya dia hanya meminta haknya di Baitul Mal (kas zakat), dan sama sekali tidak ada pemberian sultan kepada yang meminta, karena sultan itu hanya sebatas wakil, maka dia seperti seseorang yang meminta wakilnya untuk memberikan haknya yang ada pada dia.

     Beliau berkata pula (1/636): “Yang Nampak jelas dari hadits-hadits tersebut pengharaman minta-minta kecuali untuk tiga orang tersebut di dalam hadits Qubaishah atau jika yang dimintanya adalah sultan.”

     Dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Kabsyah Al-Anmary, bahwasanya Nabi SAW bersabda:

(( ولا فتح عبد باب مسألة إلا فتح الله عليه باب فقر  )) رواه أحمد والترمذي . وقا ل أبوعيسى : حسن صحيح . وقال أ يمن صالح شعبان : إسناده صحيح . وقال الألباني : صحيح .

Artinya: “Tidak sekali-kali seorang hamba membuka pintu meminta-minta, kecuali Allah membuka baginya pintu kefakiran.”

     Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Turmudzy dishahihkan oleh Imam Turmudzi, Syeikh Al-Bany dan Syeikh Aiman Soleh Sya’ban.

     Dari hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Abu Ja’far At-Thobari dalam kitabnya Tahdzibul Atsar dan Al-Busyeiry dalam kitabnya Ittihaful Khiyarotul Maharoh dari sahabat Abdurrahman bin Auf dari Nabi SAW.

          Oleh Abu Ja’far At-Thobari dalam kitabnya Tahdzibul Atsar dan Al-Qudlo’I dalam kitabnya Musnad Shihab dari sahabat Abu Hurairah RA dari Nabi SAW.

     Oleh Tabrani dalam kitabnya Mu’jam Awsath dari istri Nabi SAW Ummu Salamah dari Nabi SAW.

     Oleh Tabrani dalam kitabnya Mu’jam Al-Kabir dan Imam Baihaqi dalam kitabnya Sya’bul Iman dari sahabat Ibnu Abbas dari Nabi SAW.

  1. Mereka para penipu yang piawai mengelabui orang lain dalam melakukan aksi minta-minta

Mereka ini selain mengetahui rahasia-rahasia dan trik-trik meminta-minta, mereka juga memiliki kepiawaian serta pengalaman yang dapat mengelabui anggapan masyarakat dan memilah-milah lahan yang strategis.

Lagipula mereka memiliki berbagai pola meminta-minta yang dinamis, seperti bagaimana cara-cara menarik simpati dan belas kasihan orang lain yang akan menjadi sasaran. Contohnya, diantara mereka ada yang berpenampilan yang memprihatinkan, kumuh, compang-camping, dan  pura-pura luka.

Atau kebalikannya dengan penampilan yang terhormat, tapi tetap saja pada intinya bagaimana supaya orang dimintainya susah mengelak untuk tidak memberinya, seperti dengan cara membawa map atau proposal permohonan dana bantuan yang fiktif serta memakai pakaian rapi, pakai dasi atau sorban dan lainnya bahkan datang dengan kendaraan cukup mewah, ada juga yang membawa surat keterangan sakit berat dari dokter dengan uraian biaya yang besar padahal tidak, ada pula yang mengemis dengan mengamen atau bermain musik yang jelas hukumnya haram, dan puluhan cara lainnya untuk menipu dan membohongi manusia.

Dalam hal ini,  banyak sekali hadits-hadits nabawi yang merendahkan martabat serta mengancam orang-orang yang selalu meminta-minta & mengemis tanpa ada keperluan, apalagi yang mengandung unsur pengelabuan dan penipuan, diantaranya adalah berikut ini:

Hadits Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda:

(( ليس المسكين الذي يطوف على الناس ترده اللقمتان والتمرة والتمرتان ،  ولكن المسكين الذي لا يجد غنى يغنيه ولا يفطن به فيتصدق عليه ولا يقوم فيسأل الناس )). أخرجه البخا ري ومسلم.

 

“Bukanlah yang dimaksud orang miskin itu yang keliling ke orang-orang untuk mendapatkan sesuap dan dua suap, atau satu biji kurma atau dua biji kurma.” Para sahabat bertanya: Jadi apa yang dimaksud dengan orang miskin itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Orang yang tidak pernah merasa cukup, tidak cerdik atau mau berfikir, maka dia mengharapkan sedekah atau pemberian, dia tidak mau kerja dan berusaha, maka dia meminta-minta kepada orang-orang.” (HR. Bukhory No. 1476, dan Muslim No. 1039)

 

Masih dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda:

 

(( مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِر )) ْ

“Barangsiapa yang kebanyakan meminta-minta harta manusia, maka sesungguhnya dia meminta bara api neraka Jahannam, maka (tinggal pilih) mau mempersedikit atau memperbanyak.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

 

Imam Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin (4/223) berkata: “Meminta-minta itu hukum asalnya adalah haram. Adapun dibolehkannya karena darurat atau kebutuhan yang amat mendesak mendekati darurat; karena meminta itu mengandung unsur gugatan kepada Allah SWT serta pengaduan kepada selain-Nya, dan juga mengandung makna demo akan kedangkalan nikmat Allah SWT kepada hambanya.”

Nah, yang demikian itu wujud nyata bentuk pengaduan, serta dalam meminta-minta itu sang peminta telah merendahkan dirinya kepada selain Allah SWT, dan yang demikian itu pada umumnya tidak bisa dipisahkan dari penghinaan orang yang dimintanya. Maka kadang dia member karena rasa tidak enak (malu) atau karena ingin mendapat pujian (riya), dan ini adalah haram bagi yang mengambilnya.